Strategi Evolusi Stabil/ESS
cara alam mengunci perilaku agar tidak punah
Pernahkah kita menonton film dokumenter alam liar, lalu tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan aneh di kepala? Saat melihat singa berhadapan dengan singa lain demi memperebutkan wilayah, kenapa mereka jarang sekali bertarung sampai mati? Seringnya, mereka hanya saling mengaum, pamer gigi, lalu salah satunya mundur.
Saya dulu berpikir, bukankah hukum rimba itu tentang siapa yang paling kejam? Katanya, ini dunia survival of the fittest. Yang terkuat yang bertahan hidup. Logikanya, kalau seekor hewan ingin memastikan gennya turun ke generasi berikutnya, dia harus menghabisi semua saingannya tanpa ampun.
Namun, kalau kita perhatikan baik-baik lingkungan di sekitar kita, dari dunia hewan hingga dinamika sosial manusia, ada sebuah anomali. Dunia kita tidak dipenuhi oleh makhluk-makhluk psikopat haus darah. Di sisi lain, dunia ini juga tidak dipenuhi oleh malaikat tak bersayap yang selalu mengalah.
Ada sebuah keseimbangan yang sangat aneh. Seolah-olah, alam semesta memiliki sebuah kontrak rahasia. Kontrak tak terlihat yang memaksa semua makhluk hidup untuk bermain sesuai aturan, agar kehidupan itu sendiri tidak punah.
Untuk memahami kontrak rahasia ini, kita harus mundur sejenak ke tahun 1970-an. Saat itu, ada seorang ilmuwan biologi evolusioner Inggris bernama John Maynard Smith. Beliau ini orang yang sangat unik. Sebelum jadi ahli biologi, dia adalah seorang insinyur pesawat terbang. Jadi, dia terbiasa melihat dunia lewat kacamata matematika.
Smith menyadari ada celah besar dalam pemahaman kita tentang evolusi. Kalau evolusi hanya soal "yang kuat menindas yang lemah", ekosistem pasti sudah hancur sejak jutaan tahun lalu.
Bayangkan jika mutasi genetik melahirkan spesies serigala yang sangat agresif. Serigala ini tidak kenal kompromi. Setiap kali bertemu serigala lain, dia bertarung sampai mati. Awalnya, gen agresif ini mungkin terlihat menguntungkan. Namun, teman-teman, mari kita pikirkan konsekuensi jangka panjangnya.
Kalau semua serigala berubah menjadi petarung ekstrem, luka parah akan jadi hal biasa. Infeksi merajalela. Populasi mereka akan runtuh karena mereka membunuh satu sama lain sebelum sempat berkembang biak. Menjadi terlalu agresif ternyata adalah sebuah tiket cepat menuju kepunahan.
Jadi, alam butuh semacam rem darurat. Smith lalu meminjam konsep dari ilmu ekonomi dan psikologi bernama Game Theory atau Teori Permainan. Dia ingin meretas rumus yang dipakai alam untuk menjaga agar makhluk hidup tidak saling memusnahkan.
Untuk menguji teorinya, Smith membuat sebuah simulasi pikiran yang kini sangat legendaris. Simulasi ini dikenal dengan nama permainan Hawk and Dove (Elang dan Merpati).
Mari kita bayangkan bersama. Ada sebuah pulau yang hanya dihuni oleh Merpati. Mereka ini makhluk yang sangat cinta damai. Kalau ada dua Merpati berebut makanan, mereka tidak akan berkelahi. Mereka hanya akan saling pamer bulu, menari-nari, sampai salah satunya bosan dan pergi. Pulai ini sangat damai.
Lalu, suatu hari, karena sebuah mutasi atau migrasi, muncullah seekor Elang di pulau itu. Elang ini brutal. Kalau berebut makanan, dia langsung menyerang. Di pulau yang penuh Merpati yang gemar mengalah, si Elang ini hidup bagaikan raja. Dia mendapat semua makanan. Gen Elang pun menyebar dengan cepat.
Populasi Elang meledak. Tapi, tunggu sebentar. Apa yang terjadi ketika pulau itu akhirnya dipenuhi oleh Elang?
Kini, setiap kali Elang mencari makan, dia tidak lagi bertemu Merpati yang mau mengalah. Dia bertemu sesama Elang. Pertumpahan darah terjadi di mana-mana. Kerugian akibat cedera jauh lebih besar daripada keuntungan mendapat makanan. Kehidupan di pulau itu berubah menjadi neraka.
Di titik ini, kalau ada satu saja Merpati yang tersisa, dia justru punya keuntungan psikologis. Merpati tidak pernah terluka karena dia selalu lari dari pertarungan. Sementara para Elang sibuk saling bunuh, Merpati diam-diam bertahan hidup.
Ini adalah sebuah paradoks yang gila. Menjadi terlalu damai membuat kita diinjak-injak. Menjadi terlalu agresif membuat populasi hancur berkeping-keping. Bagaimana alam mencegah kiamat ekosistem ini?
Jawabannya adalah penemuan terbesar John Maynard Smith yang akan mengubah cara kita melihat dunia: Evolutionarily Stable Strategy atau disingkat ESS.
Dalam bahasa Indonesia, kita bisa menyebutnya sebagai Strategi Evolusi Stabil. Alam ternyata punya "kode pengunci" matematis.
Alam tidak pernah memilih populasi yang 100 persen Elang atau 100 persen Merpati. Alam akan terus mengocok populasi tersebut sampai menemukan sebuah rasio emas. Misalnya, 70 persen waktu makhluk harus bertindak seperti Merpati, dan 30 persen waktu bertindak seperti Elang.
Begitu titik keseimbangan ini tercapai, strategi ini menjadi stabil. Apa artinya stabil? Artinya, jika ada satu individu aneh yang mencoba merusak aturan ini—misalnya tiba-tiba menjadi ultra-agresif atau ultra-pasif—individu tersebut justru akan rugi sendiri dan gennya tidak akan bertahan lama.
Evolutionarily Stable Strategy adalah cara alam mengunci perilaku makhluk hidup. Alam mendesain sebuah sistem di mana populasi tidak bisa dijajah oleh strategi baru yang radikal. Keseimbangan ini memastikan kelestarian suatu spesies.
Inilah alasan ilmiah mengapa hewan jarang bertarung sampai mati. Lebah yang menyengat akan mati, sehingga menyengat hanya jadi opsi terakhir. Serigala jantan akan memiringkan lehernya tanda menyerah, dan serigala pemenang akan membiarkannya pergi. Alam secara harfiah menanamkan kode empati dan batasan dalam DNA kita agar kita tidak musnah.
Teman-teman, menyadari adanya ESS ini bagi saya sangatlah melegakan.
Seringkali kita merasa dunia manusia itu menakutkan. Kita melihat berita dan merasa dunia dipenuhi oleh orang-orang egois, manipulator, dan para pengambil keuntungan. Kita kadang takut bahwa orang-orang baik akan punah ditelan zaman.
Namun, sains membuktikan sebaliknya. Jika dunia ini 100 persen diisi oleh orang egois, masyarakat kita sudah lama runtuh. Fakta bahwa kita masih bisa duduk santai membaca artikel, meminum kopi, dan mempercayai orang lain untuk menjaga keamanan lalu lintas, adalah bukti nyata dari ESS.
Kerja sama, empati, dan kepedulian bukanlah kelemahan. Hal-hal itu adalah bagian dari strategi evolusi yang telah dikunci oleh alam selama jutaan tahun. Sesekali kita memang harus menjadi tangguh seperti elang untuk mempertahankan batasan diri kita. Namun, di sebagian besar waktu, menjadi merpati yang bisa bekerja sama adalah cara kita memenangkan permainan kehidupan yang sesungguhnya.
Jadi, mari kita tarik napas lega. Kita tidak perlu menjadi monster untuk bisa bertahan hidup. Alam semesta, melalui bahasa matematika yang sunyi, selalu berpihak pada keseimbangan.